Potensi Pertanian
Produksi tanaman pangan yang menonjol adalah Padi, dengan luas lahan 28.243 ha, produksi per tahun sebesar 161.275,5 ton;
Produksi holtikultura yang menonjol antara lain : Sayur-sayuran yaitu : Kangkung, dengan luas lahan 627 ha, produksi pertahun sebesar 4.302,8 ton; Sawi, dengan luas lahan 331 ha, produksi pertahun sebesar 2.370,9 ton; Bayam, dengan luas lahan 504 ha, produksi pertahun sebesar 2.796,7 ton.
Produksi perkebunan yang menonjol, antara lain : Tebu, dengan Iuas lahan 4.836 ha, produksi per tahun sebesar 479.731,9 ton
Produksi peternakan yang menonjol, antara lain:
• Sapi Perah, populasinya sebesar 2.096 ekor, produksi susu pertahun sebesar 2.760.304 Ltr;
• Sapi Potong, populasinya sebesar 8.351 ekor, produksi daging pertahun sebesar 8.466,3 ton.
Potensi Perikanan dan Kelautan
Produksi perikanan yang menonjol, antara lain :
Penangkapan : Laut, produksi per tahun sebesar 1.163 ton; Perairan Umum, produksi pertahun sebesar 66,7 ton;
Budidaya:
• Tambak, produksi pertahun sebesar 2.788,2 ton
• Kolam, produksi per tahun sebesar 23,7 ton
Potensi Pariwisata
Potensi obyek wisata yang menarik meliputi:
Wisata Alam :
Pantai Ketingan, terletakdi Kecamatan Buduran
Pantai Gesikan Cemandi, terletak di Kecamatan Sedati
Pantai Pucukan, terletak di Kecamatan Sidoarjo
Wisata Budaya :
Candi Pari di Desa Candi Pari Kecamatan Porong
Candi Dermo di Desa Candi Negoro Kecamatan Wonoayu
Candi Pamotan di Desa Pamotan Kecamatan Porong
Candi Sumurdi Desa Candi Pan Kecamatan Porong
Candi Medalem dan Sumur Kuno di Desa Medalem Tulangan
Candi TawangAlun di Desa Buncitan Kecamatan Sedati
Candi Klagen di Desa Tropodo Kecamatan Krian
Situs Mendowo di Desa Tropodo Kecamatan Krian
Gedung Juang 45, JI. A. Yani Sidoarjo.
Wisata Religius :
Makam Putri Ayu Dewi Sekar Dadu Kepetingan Kecamatan Buduran
Makam Mbah KH Mas’ud Pagerwojo Kecamatan Buduran
Obyek Minat Khusus:
Gedung OIah Raga (GOR) Sidoarjo;
Industri Tas dan Koper (lNTAKO Kedensari Tanggulangin);
Industri sepatu dan sandal Wedoro Waru.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sidoarjo
Tampilkan postingan dengan label sidoarjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sidoarjo. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Februari 2013
Ensiklopedia Sidoarjo
Kabupaten Sidoarjo, merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Sidoarjo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, Selat Madura di timur, Kabupaten Pasuruan di selatan, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Sidoarjo dikenal sebagai penyangga utama Kota Surabaya, dan termasuk kawasan Gerbangkertosusila.
Sejarah
Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokari. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare, yang memiliki konotasi kurang bagus diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro mendapat pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.
Di masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang.
Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu. Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.
Geografi
Wilayah Kabupaten Sidoarjo berada di dataran rendah. Sidoarjo dikenal dengan sebutan Kota Delta, karena berada di antara dua sungai besar pecahan Kali Brantas, yakni Kali Mas dan Kali Porong. Kota Sidoarjo berada di selatan Surabaya, dan secara geografis kedua kota ini seolah-olah menyatu.
Pembagian administratif
Kabupaten Sidoarjo terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kota kecamatan lain yang cukup besar di Kabupaten Sidoarjo diantaranya Taman, Krian, Candi, Porong dan Waru.
Berikut ini adalah daftar bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Sidoarjo sejak masa awal kemerdekaan Indonesia:[2]
R.A.A. Soejadi (1933-1949)
R. Suriadi Kertosuprojo (1950-1958)
H.A. Chudori Amir (1958-1959)
R.H. Samadikoen (1959-1964)
Kol.Pol. H.R. Soedarsono (1965-1975)
Kol.Pol. H. Soewandi (1975-1985)
Kol.Art. Soegondo (1985-1990)
Kol.Inf. Edhi Sanyoto (1990-1995)
Kol.Inf. H. Soedjito (1995-1999)
Drs. Win Hendrarso, MSi (1999-2010)
H. Saiful Ilah, S.H.,M.Hum (2010-sekarang)
Transportasi
Bandara Internasional Juanda dan terminal bus Purabaya yang dianggap sebagai "milik" Surabaya, berada di wilayah kabupaten ini. Terminal Purabaya merupakan gerbang utama Surabaya dari arah selatan, dan salah satu terminal bus terbesar di Asia Tenggara. Kereta komuter Surabaya Gubeng-Sidoarjo-Porong menghubungkan kawasan Sidoarjo dengan Surabaya.
Olahraga
Sejarah
Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokari. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare, yang memiliki konotasi kurang bagus diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro mendapat pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.
Di masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang.
Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu. Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.
Geografi
Wilayah Kabupaten Sidoarjo berada di dataran rendah. Sidoarjo dikenal dengan sebutan Kota Delta, karena berada di antara dua sungai besar pecahan Kali Brantas, yakni Kali Mas dan Kali Porong. Kota Sidoarjo berada di selatan Surabaya, dan secara geografis kedua kota ini seolah-olah menyatu.
Pembagian administratif
Kabupaten Sidoarjo terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kota kecamatan lain yang cukup besar di Kabupaten Sidoarjo diantaranya Taman, Krian, Candi, Porong dan Waru.
Berikut ini adalah daftar bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Sidoarjo sejak masa awal kemerdekaan Indonesia:[2]
R.A.A. Soejadi (1933-1949)
R. Suriadi Kertosuprojo (1950-1958)
H.A. Chudori Amir (1958-1959)
R.H. Samadikoen (1959-1964)
Kol.Pol. H.R. Soedarsono (1965-1975)
Kol.Pol. H. Soewandi (1975-1985)
Kol.Art. Soegondo (1985-1990)
Kol.Inf. Edhi Sanyoto (1990-1995)
Kol.Inf. H. Soedjito (1995-1999)
Drs. Win Hendrarso, MSi (1999-2010)
H. Saiful Ilah, S.H.,M.Hum (2010-sekarang)
Transportasi
Bandara Internasional Juanda dan terminal bus Purabaya yang dianggap sebagai "milik" Surabaya, berada di wilayah kabupaten ini. Terminal Purabaya merupakan gerbang utama Surabaya dari arah selatan, dan salah satu terminal bus terbesar di Asia Tenggara. Kereta komuter Surabaya Gubeng-Sidoarjo-Porong menghubungkan kawasan Sidoarjo dengan Surabaya.
Olahraga
Langganan:
Postingan (Atom)